Pages

Minggu, 22 Desember 2013

Tempo.co News Site
daily news from tempo.co 
Compare Hotels

Find great prices for amazing hotels wherever your next destination may be. It's simple to search 100+ sites at once!
From our sponsors
Melongok Rumah Hatta dan Sjahrir di Banda-Neira
Dec 21st 2013, 19:59

Melongok Rumah Hatta dan Sjahrir di Banda-Neira

Warga menggendong anaknya di teras Rumah pengasingan Sutan Syahrir di Banda Neira, Maluku, Senin (14/10). Belanda pernah mengasingkan tokoh Kemerdekaan Indonesia Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir selama enam tahun di pulau Banda Neira. TEMPO/Ayu Ambong

Berita Terkait

TEMPO.CO , Banda: Pernah jadi tempat pembuangan Muhammad Hatta dan Sutat Sjahrir, Banda-Neira masih menyimpan tempat-tempat bersejarah. Dua puluh lima meter dari pelabuhan terdapat Rumah Budaya Banda Neira. Di museum itu tersimpan berbagai jenis peninggalan jaman kolonial. Mulai dari meriam berbagai ukuran hingga tembikar. Tim Tempo (penulis Agung Sedayu dan fotografer Ayu Ambong) mengunjungi lokasi itu pertengahan Oktober lalu.

Di samping kanan bangunan itu terdapat rumah pengasingan Sjahrir. Rumah bergaya Indis yang memadukan arsitektur kolonial dan tropis ini memiliki langit-langit tinggi dengan enam tiang penyangga berbetuk bulat, bercendela besar, dan beratap agak curam. Ruang utamanya luas diapit kamar tidur dan ruang kerja. (baca:Cara Hatta-Sjahrir Tanamkan Patriotisme di Banda)

Di sana terdapat gramofon kuno lengkap dengan piringan hitam berlabel Daphnis dan Chloe Suite Symphonique produksi Columbia. Kamar Sjahrir menyimpan lemari kayu berisi sejumlah buku catatan, alat tulis, pakaian, hingga surat pengangkatan Sjahrir sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekarno. Di ruang kerja, tersimpan mesin ketik antik Underwood. Di sekitar rumah Sjahrir berderet bangunan-bangunan berarsitektur serupa. Salah satunya adalah bagunan bekas rumah Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen.

Tidak jauh dari sana, dengan jalan kaki saya butuh sekitar 10 menit, terdapat rumah pengasingan Hatta. Rumahnya besar terdiri dari bangunan utama di depan dan bangunan tambahan di belakang. Hatta menyewa rumah itu dari Belanda pemilik perkebunan pala bernama de Vries senilai 10 gulden. De Vries bersedia menyewakan rumah itu dengan harga murah karena konon berhantu. "Tapi ternyata tidak ada," kata Meutia Farida Hatta Swasono, anak Wakil Presiden Indonesia pertama itu, pada Tempo. Tempo bertemu Meutia secara tak sengaja saat berkunjung ke Banda-Neira.

Di ruang kerja Hatta terdapat meja tua lengkap dengan mesin ketik antik. Di ruangan itu dulu Hatta biasa membaca majalah atau mengetik artikel sambil menyeruput kopi tubruk. Ia mengirim tulisanya ke sejumlah media di Jawa atau Belanda. Majalah Sin Tit Po adalah salah satu media yang cukup sering memuat tulisan Hatta kala itu.

TIM TEMPO | AMIRULLAH

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions