Pages

Minggu, 22 Desember 2013

Tempo.co News Site
daily news from tempo.co 
Ready to move beyond the basics?

Enroll in this advanced DSLR course to explore more creative scenarios, image editing, and videography.
From our sponsors
Kebiasaan Ekstrem Hatta-Sjahrir di Banda-Neira
Dec 21st 2013, 20:27

Kebiasaan Ekstrem Hatta-Sjahrir di Banda-Neira

Mesin ketik Sutan Syahrir dan foto keluarga terletak di atas meja di rumah pengasingannya, di Banda Neira, Senin (14/10). Belanda mengasingkan dua tokoh kemerdekaan ini karena sikap kritisnya terhadap pemerintah Belanda pada 1 Februari 1936. TEMPO/Ayu Ambong

Berita Terkait

TEMPO.CO , Jakarta: Lokasi pengasingan Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Banda-Neira masih bisa ditemui hingga kini. Tim Tempo (penulis Agung Sedayu dan fotografer Ayu Ambong) mengunjungi situs-situs bersejarah itu pada pertengahan Oktober lalu. Kami bertemu dengan Meutia Farida Hatta Swasono, anak Wakil Presiden Indonesia pertama itu, dalam pertemuan tak terduga.

Dalam obrolan usai makan malam di Hotel Maulana, Meutia bercerita bahwa Hatta dan Sjahrir memiliki kebiasaan agak ekstrem selama di Banda. Mereka kerap berenang sekitar 300 meter menyeberang selat Neira dan kemudian langsung mendaki hingga puncak gunung api Banda. "Bapak kerap merenung di sana, pemandangannya indah," ujar Meutia.

Penasaran, besoknya saya dan Ayu naik kole-kole, sebutan kapal kayu kecil di Banda, menyeberang selat Neira menuju gunung api Banda dan mendakinya. Gunung ini termasuk unik karena kakinya langsung berada di dasar laut. Ketinggiannya hanya sekitar 600 meter dari atas permukaan laut. Namun jalur pendakian curam dan licin berkerikil. Rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk bisa mencapai puncaknya. Tepat jam 12 siang kami sampai di atas.

Tidak ada apapun di atas sana, selain terik matahari, bebatuan panas, dan cekungan bekas kawah yang masih mengepulkan asap belerang. Namun pemandangan dari sana luar biasa. Lautan Banda berkilauan bagai hamparan cermin raksasa lengkap dengan perahu nelayan dan gugusan pulau-pulau Banda di atasnya.

Saya membayangkan Hatta dan Sjahrir dulu duduk di puncak gunung ini, menatap ke bawah ke bentangan negeri yang indah namun masih terjajah, lantas mereka berdiskusi tentang masa depan Indonesia.

TIM TEMPO | AMIRULLAH

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions