KURANG lebih lima perusahaan farmasi berbondong-bondong memproduksi obat
branded yang mampu menghancurkan sel kanker pada pasien kanker. Namun, mahalnya harga obat tersebut, pasien pun biasanya beralih ke pengobatan alternatif.
Hal ini sah-sah saja dilakukan untuk mencapai kesembuhan. Namun yang perlu diingat ialah pengobatan alternatif tak berdampak signifikan, karena pada dasarnya pengobatan itu bersifat preventif.
Di sisi lain, gap harga obat mahal masih menjadi ganjalan para pasien. Belum lagi, pasien juga dihantui apakah obat dengan harga selangit itu efektif menyembuhkan penyakit yang dideritanya dalam kondisi stadium lanjut.
Lantasn kapan sesungguhnya obat-obatan kanker efektif menyembuhkan kanker tertentu dalam tubuh?
"Seseorang yang menderita kanker baru di stadium satu atau dua, dan mengambil pengobatan, lebih dari 70 persen memiliki kemungkinan untuk sembuh. Cukup di radioterapi, pembedahan dan kemoterapi. Namun semua itu tergantung jenis kanker, jenis sel kanker dan tingkat keparahan kanker. Itulah yang membedakan efektivitasnya," jelas Rendi Stevian, selaku Senior Product Manager Kalbe Farma dalam acara yang bertema Kalbe Journalist Gathering 2013, Maja House Rooftop Bar, Lembang, Jumat 21 Desember 2013.
Dia menambahkan bahwa banyak survival cancer yang terdeteksi stadium awal dan langsung mengambil tata laksana disesuaikan dengan jenis kankernya. Melalui obat, kemungkinan untuk bisa hidup itu di atas lima tahun. Dan itu merupakan kemungkinan hidup yang tinggi. Sebaliknya, bila kanker diambil penanganannya sudah di stadium tiga, meskipun ia mengonsumsi obat kanker yang bagus pasti angka kemungkinan hidupnya di bawah lima tahun. Pasalnya, kondisi kanker stadium tiga biasanya sudah menyebar ke organ lain sehingga sulit untuk dihancurkan sel kankernya. (ind)