MEDITASI menjadi tren baru masyarakat Indonesia untuk menjaga kesehatan. Bahkan, kini dokter tidak jarang merekomendasikan pasiennya untuk mengikuti kelas meditasi.
Menarik untuk diulik lebih dalam, apakah meditasi sebenarnya bisa menjadi bagian dari pengobatan medis? Menanggapi hal itu, Merta Ada, spesialis meditasi dari Klinik Meditasi Bali Usada, mengatakan bahwa meditasi hanyalah media pendukung dari pengobatan medis, bukan merupakan bagian dari pengobatan medis yang dilakukan seseorang saat datang ke dokter. (Baca: Cegah Kanker dengan Meditasi)
"Hubungan antara pengobatan medis dan meditasi itu saling mendukung. Kalau saya menemukan pasien lebih membutuhkan pengobatan medis ketimbang meditasi, saya anjurkan mereka ke dokter," katanya pada acara bertema "Mal Ciputra Ajak Para Wanita Belajar Melakukan Deteksi Dini 'Sadari' Terhadap Kanker Payudara" di Mal Ciputra, Jakarta, baru-baru ini.
"Begitu juga dokter, jikalau dirasa pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan keluhan pasiennya lewat meditasi, dokter pun akan merekomendasikan pasien tersebut ke saya," imbuhnya. (Baca: Meditasi Bisa Atasi Kecanduan Rokok Lho)
Lebih dalam, dia menerangkan bahwa para dokter biasanya mengirim pasien ke klinik meditasi jika penyebab keluhan pasien yang ditangani berasal dari sisi psikisnya. "Biasanya kami dapet operan pasien dari dokter yang pasiennya sifatnya traumatik. Nah, hal inipun mengambarkan bahwa keberadaan meditasi ialah saling mendukung," tutup Merta. (Baca: Virzha "Idol" Rutin Meditasi sejak Enam Tahun Lalu) (ftr)