Pages

Senin, 13 Januari 2014

health.detik
Detik.com sindikasi 
How to Get into Medical School

A tested blueprint to approach the daunting admissions process with both confidence and success! Enroll in this online course for just $29.
From our sponsors
Waspada, Junk Food Tetap Bikin Anak Gemuk Meski Rajin Olahraga
Jan 12th 2014, 08:01

Jakarta, Junk food boleh jadi enak, ringan dan mengenyangkan, tapi tahukah Anda bahaya mengonsumsi junk food tak hanya karena kandungan lemak dan garamnya yang tinggi. Sebuah studi pun mengatakan makan junk food tetap membuat anak gemuk, meski mereka banyak berolahraga.

Bahkan peneliti menemukan remaja yang mengonsumsi paling banyak lemak mempunyai perut lebih bundar dibandingkan remaja yang tak pernah mengonsumsi junk food, tak peduli seberapa banyak aktivitas fisik yang mereka lakukan. Dengan kata lain studi ini berupaya menjelaskan bahwa hanya dengan mengurangi konsumsi lemak dan meningkatkan aktivitas fisik adalah satu-satunya cara untuk melawan obesitas anak.

"Hingga kini banyak yang berpikir pola makan tak seimbang masih dapat dikompensasi dengan latihan fisik. Namun dalam studi ini kami tidak melihat itu," tutur si peneliti Dr Idoia Labayen dari University of Basque Country, Spanyol.

Dalam studi ini peneliti mengamati 'peranan' makanan berlemak dalam pembentukan lemak perut pada 224 partisipan remaja. Menurut peneliti, ini adalah tempat paling berbahaya untuk menyimpan lemak karena dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, diabetes, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

"Ditambah lagi remaja merupakan kelompok berisiko karena gaya hidupnya. Gaya hidup mereka cukup mengkhawatirkan karena mereka mulai berani mengambil keputusan sendiri terkait apa yang mereka ingin makan dan tidak, dan mereka juga tengah melalui masa di mana banyak dari mereka yang berhenti melakukan olahraga tertentu," terang Dr Labayen.

Peneliti mengukur kadar lemak partisipan dengan menggunakan sebuah mesin yang disebut Dexa (dual energy X-ray absorptiometry) yang memberikan informasi tentang jumlah otot dan massa lemak pada tiap-tiap bagian tubuh. Tak lupa pola makan dan aktivitas fisik partisipan juga dinilai oleh peneliti.

Dan sesuai dugaan peneliti, ternyata mengonsumsi banyak lemak tetap bisa meningkatkan risiko obesitas, bahkan meski asupan kalori totalnya tidak bertambah, terlepas partisipan rajin berolahraga atau tidak. Ini artinya makin banyak lemak yang mereka konsumsi, pada akhirnya jumlah lemak di seputaran lingkar pinggang mereka juga akan meningkat.

"Meski faktanya aktivitas fisik biasanya merupakan faktor pencegah, tapi dalam kasus semacam ini olahraga ternyata tak mampu mengatasinya," tegas Dr Labayen seperti dilansir Daily Mail, Minggu (12/1/2014).

(vit/vit)

Ikuti detikHealth Reader's Choice dan dapatkan hadiah sepeda Polygon, alat pengukur gula darah, dan hadiah menarik lainnya. Yuk, klik di sini 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Media files:
150243_junk.jpg (image/jpg, 0 MB)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions