BIDAN menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Penempatannya yang mencapai hingga pelosok dan desa-desa terpencil menjadi tumpuan ibu dan anak dalam memeroleh layanan kesehatan.
Bidan merupakan salah satu profesi kesehatan strategis, di mana menjadi bagian terdepan yang memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Meski memiliki peran sentral, dalam perkembangannya, peran bidan yang begitu besar tersebut tetap saja dibelenggu kendala.
Ada beberapa keluhan yang mereka rasakan selama mengabdi untuk masyarakat. Hal itu seperti disampaikan Dr. dr Slamet Riyadi Yuwono, DTM & H. MARS selaku staf pengajar Poltekes Kemenkes RI Surabaya serta perwakilan Indonesia untuk MDGs di Puri Agung, Grand Sahid Hotel, Jakarta Pusat, Kamis (14/11/2013).
"Keluhannya yang pertama bersifat personal, artinya kalau dulu Kemenkes bisa langsung mengatur mereka dari penempatan jenjang karier sampai nanti pendidkan dan pensiun, kalau sekarang begitu diangkat diserahkan ke daerah," tuturnya.
Dr Slamet mengatakan lebih lanjut bahwa perannya hanya membuat petunjuk umum. Karenanya, pihaknya sedang menata ulang bagaimana bentuk
performing tenaga kesehatan umumnya dan khususnya para bidan.
Kedua, sambungnya keberadaan bidan di desa untuk mendekatkan pelayanan kesehatan di rumah. Permasalahannya ketika dia ditempatkan di suatu desa, tak ada jaminan bidan tersebut bertahan di tempat itu. Dia bisa dipindahkan sesuai kebijakan bupati masing-masing. Dan itulah yang akan ditata ulang, sehingga desa akan terus dijaga.
Sementara itu, secara institusi pihaknya juga akan membuat sistem pelayanan mulai di garis depan, posyandu, masyarakat, klinik-klinik bidan, dan praktik mandiri yang minta diperhatikan.
"Dulu konsepnya suatu bentuk kemadirian, dulu
kan di-
cover negara dan secara pelan-pelan rakyat, masyarakat ,swasta diberikan untuk berperan. Sama kaya rumah sakit dulu, rumah sakit swasta dibatasi dan jaraknya ditata dari rumah sakit yang ada dan sekarang berjejer. Bidan mandiri yang swasta juga
gitu, silahkan praktik tapi Anda urus sendiri," tambahnya.
Poin yang ketiga dalam bentuk pelatihan di mana bisa meningkatkan kompetensi para bidan. Pelatihan tersebut ada dua, pertama ialah peningkatan kemampuan,
pre- service training, jadi dia sebelum lulus melakukan pelayanan perbaiki kurikulumnya di tempat pendidikan. Di Kemenkes dan Kemendikbud penanggung jawabnya. Kedua ialah
in service training, yakni ketika sudah lulus dan kerja, kemudian dinilai perlu ada kemampuan yang ditingkatkan," tutupnya.
(tty) This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.