ORANGTUA memainkan peran penting bagi perkembangan anaknya. Karenanya, komunikasi yang baik dengan anak perlu senantiasa dibina, khususnya ketika usia buah hati menginjak remaja.
Di usia tersebut, rasa ingin tahu mereka yang sedang tinggi-tingginya, tentu perlu didukung dengan bimbingan dari orangtua agar mereka tak menyerap segala hal di luar secara utuh, di mana dikhawatirkan memengaruhi perilaku mereka. Apalagi remaja rentan untuk menunjukkan aktualisasi diri mereka lewat beragam hal. Jika tak dikontrol, tak jarang mereka kebablasan mengaktualisasikan diri, seperti kasus video porno yang diproduksi siswa SMPN 4.
"Aktualitasi secara fisik biasanya terlihat dari cara berdandan, pakai pakaian ketat, atau pakaian menonjol. Itu bagian dari aktualitas, tapi kalau aktualitas berciuman di depan umum, ini gawat. Apalagi seksualitas dengan ditonton," ujar DR Sudibyo Alimoeso, MA selaku Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN usai acara seminar hasil "Survei Kesehatan Reproduksi Remaja" (SKRRI) 2012 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, 7 November 2013.
Sudibyo sendiri merasa terkejut dan tak menyangka jika adegan seksual itu dilakukan siswa-siswi berusia belia tersebut.
"Saya pikir itu hanya goyang Cesar saja sambil ditempel, tapi kan ternyata melakukan. Menurut saya, ini sudah di luar batas kepatutan. Tanggung jawab orangtua itu penting. Saya khawatir komunikasi orangtua dengan remaja akhir-akhir ini sangat berkurang intensitasnya, khususnya kualitas komunikasinya. Yang penting kan kualitas komunikasi dan bukan berarti harus saling berhadapan," tambahnya.
Soal komunikasi dengan anak, sambung Sudibyo, hal tersebut sering disalahartikan, di mana kualitas komunikasi tidaklah harus saling bertemu.
"Kualitas ketemu tak sering, tapi yang disampaikan itu bermakna, termasuk kalau bermakna ya komunikasi bisa lewat digital. Kalau memang itu bisa diterima kedua belah pihak kan bisa berkualitas. Ini saya khawatir sangat menurun kualitasnya komunikasi, sehingga remaja jadi enggan berhubungan atau kontak dengan orangtuanya. Orangtua dianggap sangat menakutkan bagi remaja. Kalau sudah terjadi seperti itu, mereka larinya ke peer group. Remaja itu nyaman kalau bergaul dengan remaja yang sebaya, nyaman menunjukkan aktualitas dirinya. Ini yang saya rasa perlu peran orangtua," tutupnya. (ind)
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: