Pages

Senin, 18 November 2013

Liputan6 - RSS 0.92
Liputan6.com merupakan situs berita aktual, tajam, terpercaya yang dimiliki SCTV 
Keep Your Child Ahead Of The Curve!

We've spent the last 12 years developing a system that successfully teaches kids to read.
From our sponsors
Anak OI yang Bertulang Rapuh Masih Bisa Berkarya dan Berprestasi
Nov 18th 2013, 06:05

Posted: 18/11/2013 12:30

Anak OI yang Bertulang Rapuh Masih Bisa Berkarya dan Berprestasi

(vanguardia.com.mx)

Liputan6.com, Jakarta : Osteogenesis imperfecta (OI) bukanlah penghalang bagi anak-anak untuk terus berkarya dan berprestasi. Anak-anak ini sama seperti anak normal lainnya yang memiliki potensi yang sama.

Berita Terkait

Demikian disampaikan Direktur PPTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Ekowati Rahajeng, SKM.,M.Kes dalam acara 'Temu Media Osteogenesis Imperfecta: Forum Osteogenesis Imperfecta Indonesia', di Kantor Pusat IDAI Matraman, Jakarta, Senin (18/11/2013)

"Jangan pernah membedakan anak-anak penderita OI dengan anak normal lainnya. Sebab, mereka memiliki potensi yang sama untuk bangsa ini," kata Ekowati Rahajeng dalam pidatonya," kata Dr Ekowati.

OI merupakan penyakit genetik yang menyebabkan tulang mudah patah. Dan penyakit keturunan ini terjadi pada satu dari 20.000 orang anak di Indonesia. OI juga merupakan penyakit tanpa adanya penyebab yang jelas. OI dapat pula menyebabkan terjadinya kelemahan otot, bentuk gigi yang rusak, tulang belakang yang membungkuk, serta hilangnya pendengaran.

Bahkan parahnya, penderita OI yang memiliki tulang rapuh, tulang dapat patah hanya dengan melakukan aktivitas biasa. OI timbul karena adanya kelainan genetik pada kolagen tipe 1 atau pada jalur yang memengaruhi produksi kolagen. Gangguan pada kolagen maupun pada jalurnya, mengakibatkan kemampuan tubuh untuk menghasilkan tulang yang kuat terganggu, sehingga tulang menjadi mudah retak.

Dari jumlah anak-anak di Indonesia yang mencapai 80 juta jiwa, jumlah penderita Osteogenesis Imperfecta (OI) atau tulangnya mudah patah sekurang-kurangnya mencapai 3.000 jiwa. Tapi, angka itu masih akan bertambah mengingat masih minimnya informasi mengenai penyakit OI ini.

(Adt/Mel)

Berita Rekomendasi

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions