Pages

Rabu, 30 April 2014

Sindikasi lifestyle.okezone.com
Berita-berita Okezone pada kanal Lifestyle 
Create an Online Store

Over 80,000 ecommerce brands trust Shopify. Get started with a free 14 day trial.
From our sponsors
Kekerasan Verbal-Emosional pada Anak Timbulkan Traumatik
Apr 30th 2014, 10:42

dr Diana Papayungan SpKJ (Foto: Marieska/Okezone)dr Diana Papayungan SpKJ (Foto: Marieska/Okezone)

DEFINISI kekerasan sesuai WHO adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap seseorang yang mengakibatkan luka, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Bicara soal kekerasan, ada tiga jenis di antaranya fisik, verbal, dan emosional.

 
Indikator terjadinya kekerasan seksual pada anak adanya infeksi Miss V berulang pada anak, nyeri, pendarahan, dan gangguan buang air. Sementara indikator terjadinya kekerasan fisik, yakni luka, luka bakar, cedera, dan lepasnya sendi. Indikator terjadinya kekerasan emosional, yakni wajah sedih, keraguan, kebingungan, cemas, ketakutan atau amarah yang terpendam.
 
"Kekerasan terhadap anak tak hanya selalu fisik atau seksual, tetapi verbal dan emosional juga bisa. Kekerasan emosional pengabaian terhadap hak–hak anak. Contohnya sang ibu lagi asyik nonton atau bekerja, anaknya mau manja– manja harusnya kita rangkul peluk disambut, tetapi malah ibunya asyik kerja atau menonton, ini juga kekerasan emosional, semestinya anak mendapatkan afeksi atau hubungan emosional kepada kita," kata Psikiater RSUD Kota Depok dan RS Bunda Margonda Depok dr Diana Papayungan SpKJ di Balai Kota Depok, Rabu (30/04/2014).
 
Kekerasan secara verbal lainnya, misalnya dilakukan guru- guru di sekolah kepada siswa. Hal itu sangat menyakitkan bagi anak dan terinternalisasi kepada diri mereka.
 
"Guru misalnya bilang siswanya bodoh, lalu keluarlah kebun binatang.  Sangat menyakitkan. Pasien–pasien saya, kekerasan fisik verbal dan emosional, tak jauh berbeda dampak pada anak. Menginternalisasi pada diri mereka. Kekerasan fisik pasti dengan cara mencubit, menjewer, sampai sundut rokok, setrika, sadis banget. Kekerasan seksual  enggak usah malu tetap harus kita bicarakan, memang ada benar-benar ada, dilakukan orang-orang dewasa kepada anak untuk stimulasi seksual. Dengan kontak langsung dan pornografi," tegasnya.
 
Diana menambahkan, seorang anak yang sudah mengalami traumatik karena mengalami kekerasan, peran ibu sangat utama untuk membangkitkan rasa kepercayaannya dan percaya dirinya. Dampaknya tentu sang anak menjadi tak mudah percaya dengan orang lain, kecemasan berlebihan, mimpi buruk, dan mengompol.
 
"Kita harus hati–hati, lihat anak kita kalau mengalami kekerasan emosional akan diam, pasti ada perubahan perilakunya, pasti terjadi problem mental dan emosional. Gangguan depresi pada anak usia dua-lima tahun pasti ketakutan, kecemasan berlebihan, lalu yang biasanya sudah enggak ngompol kok ngompol, mimpi buruk, harus waspada itu mental. Kalau kekerasan seksual ada infeksi kelamin di Miss V, lalu usia 6-12 kesulitan belajar enggak mau masuk sekolah, kemudian pada anak usia 13-18 tahun merusak diri sendiri dan tawuran. Korban kekerasan pasti akan menghasilkan konsep diri negatif, rendah diri, agak sulit berinteraksi," jelasnya.
(tty)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions