Pages

Selasa, 29 April 2014

health.detik
Detik.com sindikasi 
Shop Tervis tumblers.

Create a one of a kind personalized gift. It's fun and easy to design!
From our sponsors
Kelainan Gangguan Cerna, Dominasi Penyebab Kolik pada Bayi
Apr 29th 2014, 05:30

Yogyakarta, Bila bayi kolik alias rewel, itu menandakan ada yang salah dengan tubuhnya. Namun karena bayi belum bisa bicara, tentu yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Untuk itu sebagai orang tua, Anda harus mengetahui apa saja penyebab kolik pada anak.

Prof dr Muhammad Juffrie, Sp.A (K), Ph.D., menerangkan kelainan saluran cerna merupakan penyebab terbesar kolik.

"Mungkin karena ada trauma dari radang, atau sebenarnya saluran cerna si bayi masih immature (belum sempurna). Dan ini baru mature ketika usia si anak memasuki empat bulan," terangnya dalam Seminar Kebijakan dan Asuhan Nutrisi Sejak Kehamilan dan Tumbuh Kembang Anak di Hotel Grand Quality Yogyakarta, seperti ditulis Selasa (29/4/2014).

Penyebab kolik ketiga adalah kembung. Guru Besar Ilmu Pediatri Fakultas Kedokteran UGM tersebut menjelaskan hal ini terjadi karena jumlah laktosa yang terkandung dalam ASI mencapai 70 persen, padahal enzim laktase (enzim dalam tubuh bayi yang berfungsi mencerna ASI) besarnya baru 30 persen, sehingga tidak semua laktosa tercerna dengan baik dan sisanya bayi menelan udara," jelas Prof Juffrie.

Bayi pun bisa kembung karena gerakan ususnya tidak normal, entah itu kurang aktif atau malah cenderung berlebihan dan absorpsi (penyerapan) karbohidrat yang belum sempurna sehingga menghasilkan gas berlebihan.

Bahkan bukan hanya karena soal maturitas dan gerakan usus, perbedaan mikrobiota dalam saluran cerna pun ikut mempengaruhi risiko kolik pada bayi. Karena menurut sebuah penelitian, bakteri patogen seperti Klebsiella sp, bakteri Coliform, E coli dan Lactobacillus sp lebih banyak ditemukan pada bayi kolik.

"Ini artinya flora usus bayi kolik tidak normal, karena bakteri yang menguntungkan ususnya lebih sedikit," tegas Prof Juffrie.

Selain itu, alergi pada protein susu sapi juga dikatakan Prof Juffrie dapat memicu bayi kolik. "Bisa ditanya dulu apa bapak atau ibunya alergi susu. Kalau memang iya, penanganannya ya hindari susu sapi. Begitu juga dengan ibunya, termasuk menghindari produk turunan dari susu sapi itu sendiri," pungkasnya.

(lil/vit)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Media files:
123226_143919_bayinangists.jpg (image/jpg, 0 MB)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions