Jakarta, Pria dua kali lipat berisiko mengalami penyakit kardiovaskular termasuk jantung koroner dibandingkan wanita. Hanya saja, ketika wanita sudah memasuki masa menopause, risiko terjadinya komplikasi ketika terkena jantung koroner lebih besar dibanding pria.
"Pria lebih berisiko karena berkaitan dengan hormon tapi setelah menopause, serangan jantung pada wanita diteliti secara statistik lebih sering menyebabkan komplikasi," kata dr Taufik Pohan SpJp, spesialis jantung dari RS Pondok Indah.
Komplikasi yang ditimbulkan di antaranya serangan jantung disertai timbulnya lubang di antara bilik kanan dan kiri jantung (spontanious VCD). Bisa juga terjadi kerusakan atau kebocoran pada katup jantung.
Nah untuk menangani kondisi ini, menurut dr Taufik, bisa dilakukan teknologi terbaru dua tahun ini yakni melakukan penutupan pada katup yang bocor dengan menggunakan alat semacam klip, demikian diutarakan dr Taufik dalam konferensi pers New Advanced Technology DSCT Flash RS Pondok Indah, Jl Metro Duta Pondok Indah, Jakarta, Kamis (7/5/2014).
"Kalau untuk timbulnya lubang di bilik kanan dan kiri, ada semacam alat dimasukkan lalu kerjanya seperti payunglah yang akan menutup lubang tersebut, nggak perlu lewat operasi," tutur dr Taufik.
Oleh karena itu, dr Taufik menyarankan bagi wanita atau pria yang sudah berusia di atas 30 tahun sebaiknya melakukan deteksi dini. Apalagi jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner. Jika kerap mengalami nyeri di dada dr Taufik menyarankan segera berkonsultasi ke dokter.
"Karena sering nyeri dada dianggap masuk angin. Deteksi dini bisa dilakukan dengan CT Scan untuk melihat apakah ada penyempitan atau penyumbatan di pembuluh darah koroner," ucap dr Taufik.
(rdn/vit)