Jakarta, Anak yang terlahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB), angkanya memang masih kecil, yakni 8-10 bayi di antara 1.000 kelahiran. Meski demikian jangan diabaikan. Jika tidak ditangani dengan baik penyakit ini akan mempengaruhi kualitas hidup anak di masa mendatang, dan bahkan bisa berakhir dengan kematian.
dr Eka Guna Wijaya, SpA, dokter spesialis anak di RS Prima Medika, Bali, mengatakan ada peningkatan jumlah rujukan kasus PJB ke rumah sakit besar. Hal ini disebabkan karena membaiknya sistem rujukan dari luar daerah serta peningkatan pengetahuan orang tua dalam mengenali masalah-masalah kandungan atau tanda-tanda PJB pada anak.
"Tidak hanya itu, saat ini intensitas pemeriksaan echocardiografi pada bayi yang baru lahir untuk mendeteksi dini apakah ada masalah pada kondisinya juga semakin meningkat. Bahkan saat ini juga banyak dokter yang memeriksa dan mengerjakan tugas tersebut sejak masih janin di dalam kandungan," ungkap dr Eka dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (8/5/2014).
Adanya peningkatan awareness dan kewaspadaan yang baik diterapkan oleh orang tua tentunya lebih memudahkan dokter untuk memeriksa hal-hal yang memang patut diwaspadai. Untuk mendeteksi PJB pada bayi atau anak, dr Eka mengatakan bahwa deteksi bisa dilakukan sejak janin di dalam kandungan. Meski dr Eka menambahkan ada waktu-waktu tertentu yang memang harus diperhatikan untuk melakukan pendeteksian pada janin tersebut.
"PJB sudah bisa dideteksi sejak janin dalam kandungan dengan memakai alat echocardiografi (USG jantung) yang dilengkapi detektor (probe) khusus untuk janin. Namun, waktu terbaik melihat atau mendeteksinya adalah di antara usia kehamilan 18-22 minggu atau sekitar 4-6 bulan," kata dr Eka.
"Untuk usia di bawah itu, akan membuat sulit melihat jantung, karena ukuran jantung terlampau kecil. Sedangkan untuk usia di atas itu juga agak sulit, karena dada janin mulai berada di balik tulang panggul ibu, sehingga agak sulit melihat jantung janin," imbuhnya.
(vit/vit)