Pages

Kamis, 08 Mei 2014

Berita Dunia Kesehatan Terbaru, Tips Posisi Seks, Cara Diet Sehat
Berita Kesehatan Liputan6.com menyajikan kabar terbaru dunia kesehatan, tips hidup sehat, cara diet alami hingga posisi gaya seks terpopuler 
Shop the Official Crayola Store

Find art supplies for outdoor play, coloring books for indoor play and lots more. Visit our colorful online store today.
From our sponsors
Mau Mati Pelan-pelan? Merokoklah Terus-menerus!
May 8th 2014, 09:00, by Aditya Eka Prawira

Sejumlah dokter di Inggris mendesak pemerintahnya untuk membuat peraturan larangan rokok bagi generasi muda

Liputan6.com, Jakarta Para perokok aktif sangat rentan dan berisiko menderita penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker. Meski begitu, banyak orang mengakui sangat sulit menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Padahal, dokter forensik telah menyebutkan, kematian akibat rokok lebih buruk ketimbang kecelakaan lalu lintas.

"Kalau kecelakaan sudah jelas, bisa langsung meninggal dunia. Kalau rokok, sakitnya itu pelan-pelan dan tidak dirasakan. Tiba-tiba, muncul kanker dan penyakit lainnya," kata Plt Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Agus Purwadianto, dalam acara `Hilangkan Mitos Tentang Kanker` di Ruang Swabesi Gedung Sujudi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, Kamis (8/5/2014).

Biasanya, lanjut Agus, para perokok akan meninggal setelah mengalami penyakit kronis, seperti kanker. Seperti diketahui, rokok dan kanker memiliki keterkaitan yang erat, yang tak mungkin dapat dipisahkan.

"Secara kebetulan saya ini orang forensik. Saya tahu kalau itu siksaannya maha dahsyat. Merenggutnya pelan-pelan," kata Agus menambahkan.

Untuk itu, Agus menyarankan pada para perokok untuk menghentikan kebiasaan saat ini juga. Jangan sampai, perokok baru menghentikan kebiasaannya setelah terkena kanker. "Lebih baik hentikan kebiasaan merokok sebelum terkena kanker. Jangan kena dulu, baru berhenti," kata dia menekankan.

Perokok harus tahu, pembiayaan untuk pengobatan kanker sangat mahal. Bahkan pada 2012, pembiayaan kanker pada Jamkesmas mencapai Rp 144,7 miliar. Selain mahal, penyakit kanker pun menjadi beban keluarga si penderita itu.

(Abd) ;

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions