Liputan6.com, Jakarta Mantan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines Hotasi Nababan kini terlihat lebih ramping dan segar. Hotasi ternyata melakukan diet. Namun yang beda, diet yang ia lakukan dengan cara menjinakkan enzim perut.
Menurutnya enzim-enzim di perutlah yang membuat otak mengambil keputusan apa yang akan dimakan dan tidak. Alhasil, jika enzim ini sudah bisa ditata maka otak pun tidak rakus untuk selalu makan dan makan.
Untuk mengawalinya, Hotasi mengubah enzim di perut selama 2 minggu. Selama 2 minggu pertama itu, Hotasi tak makan nasi dan teman-temannya alias makanan yang manis dan gurih-gurih. Ia hanya makan makanan yang tanpa rasa alias hambar dan karbohidrat dalam bentuk direbus.
Yang dimakan Hotasi dalam 2 minggu pertama adalah roti gandum, singkong rebus, kentang rebus, sayuran segar, dan banyak minum air putih. Ia tidak membatasi jam makan, saat perut lapar makanan-makanan itu dimakannya. Selama 2 minggu pertama itu juga Hotasi hanya mengatur pola makan tanpa melakukan olahraga.
Hasilnya, perutnya jadi mengecil dan berat badannya mulai turun. Satu lagi, enzim di perutnya tak lagi membuat otak minta makan makanan yang berlemak dan manis lagi. Karena dengan enzim yang bisa dijinakkan, pesan ke otak pun juga ikut pengaruh. Otak jadi memilih makanan yang sehat-sehat dan tidak rakus lagi untuk makan.
"Kita ubah enzim perut. Selama dua minggu kita ubah kebiasaan makan, kita acak seperti crt alt del (tuts di komputer) memori-memori enzim," ungkap Hotasi disela-sela kunjungan ke redaksi Liputan6.com, seperti ditulis Selasa (20/5/2014).
Bagimana pun kata Hotasi, dari kecil kita selalu makan nasi dan gula. Sedangkan saat makan, ada makanan lain yang jadi teman-teman nasi yang sekitar 80 persen tidak sehat, contohnya nasi tidak enak kalau tidak pakai gulai. Bayangkan betapa besar kalori yang masuk ke tubuh saat makan nasi bersama teman-temannya itu.
"Nah, kita ingin ubah enzim. Enzim itu kuasai pikiran makanan kita, kita sering lawan dengan pikiran. Aku pengen diet nggak bisa, makin kita lawan nggak bisa, misalnya enam kali makan sehat dan satu hari sesekali makan sate. Itu ketika makan sate, enzim akan serap full. Enzim itu mengatur beda-beda terhadap makanan," ujar Hotasi.
Selama dua minggu pertama dengan konsumsi makanan direbus yang hambar, plus sayuran dan minum air putih, maka tubuh seperti melakukan detoksifikasi.
"Selama dua minggu netral karena nutrisi bagus dan banyak minum. Perut saya kecil. Sekarang lihat objek makanan biasa saja. Ini karena enzimnya sudah berubah. Padahal dulu baca tulisan restoran sederhana saja sudah ngiler. Sekarang karena enzim sudah berubah, saya ngilernya makan sayur," jelas Hotasi.
Baru setelah dua minggu berhasil pola makanan, Hotasi melakukan olahraga agar tubuhnya lebih fit dan tidak lembek. "Jadi olahraga itu setelah kita bisa mengatur makan, jangan olahraga untuk menurunkan berat badan, karena nanti balas dendam. Merasa sudah olahraga banyak, maka orang langsung pelampiasannya makan banyak," ujar Hotasi.
Kini setelah berhasil menjinakkan enzim perut, berat Hotasi turun 14 kg dari semula 88 kg menjadi 74 kg. Dengan tubuh seperti sekarang, Hotasi merasa lebih ideal dan sehat. (Igw)
(Igw) ;
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.