TEMPO.CO, Beijing - Berdasarkan data global, penjualan barang mewah bermerek terkenal selalu dikuasai perempuan. Namun, di Cina, data dari lembaga survei CLSA Asia-Pacific Markets justru menyebutkan bahwa 55 persen angka penjualan barang mewah bermerek terkenal justru disumbang oleh kaum Adam. Angka tersebut bahkan berada di atas rata-rata global yang hanya sebesar 40 persen.
Pengamat Senior di McKinsey's Asia Consumer Center, Vinay Dixit, mengatakan laki-laki Cina membelanjakan rata-rata 61 persen untuk parfum dan 52 persen untuk arloji. President Coach Retail International, Victor Luis, menuturkan laki-laki di Cina menyumbang 45 persen dari US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 13,4 triliun penjualan tas mewah. Nilai ini jauh di atas Amerika Serikat yang hanya sebesar 7 persen. "Di Amerika Serikat bahkan tak sampai 10 persen," kata dia.
Menurut CLSA, laki-laki Cina menghabiskan 7 miliar yuan atau sekitar Rp 12 triliun untuk membeli barang mewah pada 2010 silam. Pada saat yang sama, perempuan Cina "hanya" menghabiskan 2,8 miliar yuan atau sekitarr Rp 5 triliun untuk barang yang sama. CLSA juga menyebut bahwa tingginya pengeluaran laki-laki dibandingkan perempuan ini terlihat di hampir semua kategori barang.
Luckas Lee, seorang manajer hubungan masyarakat di sebuah perusahaan di Cina mengatakan, ia berbelanja setidaknya sekali dalam sepekan sekaligus mengecek barang-barang keluaran terbaru. Laki-laki yang merek favoritnya Burberry, Lanvin, dan D&G ini membelanjakan rata-rata 5.000 yuan (sekitar Rp 9,2 juta) setiap pekannya. "Menurut saya, saat ini laki-laki di Cina menyukai barang-barang yang indah," ujar Lee.
CLSA juga menyatakan bahwa awalnya laki-laki di Cina lebih sering membelanjakan uangnya untuk hadiah. Namun, seiring dengan gencarnya program pemerintah untuk memberantas korupsi, mereka menjadi lebih berhati-hati agar tak tersangkut kasus pemberian gratifikasi. "Program tersebut mengubah pola belanja di Cina," kata Dixit.
Direktur Asosiasi dari Lembaga Penelitian Konsumen Nielsen, Jeffrey Zhao, mengatakan mulanya laki-laki di Cina membeli mobil untuk keperluan komersial. Sementara saat ini, kata dia, mereka lebih menyukai sedan mewah berpintu dua dan SUV untuk kesenangan pribadi. Selain itu, Jeffrey berkata tujuan mereka membeli mobil mewah yakni pengakuan atas status dan identitas. "Seperti, 'Anda tahu siapa saya kan?'" ujarnya.
Dixit mengatakan biasanya laki-laki di Cina menyukai sepatu, arloji, dan pakaian. McKinsey memprediksi Cina akan mengambil alih pasar barang mewah terbesar, yang sebelumnya dikuasai Jepang.
CHINA DAILY | LINDA HAIRANI