KOMPAS.com - Ikat adalah salah satu teknik pembuatan kain yang cukup tradisional di Indonesia. Ikat sendiri dibagi menjadi dua teknik yaitu single dan double. Ikat single ini kebanyakan dihasilkan oleh beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, sumba, Timor, dan Lombok. Sedangkan ikat double hanya diproduksi di desa Agha, Tenganan, Bali.
Ikat double memiliki teknik pembuatan kain yang lebih rumit karena membutuhkan dua kali proses pengerjaan, pembuatan motif dan pewarnaan. Maka biasanya, ikat double ini hanya digunakan untuk upacara adat atau pernikahan saja.
Selain di Indonesia, beberapa negara Asia lainnya juga memilikinya misalnya Kamboja, Myanmar, Filipina, Thailand, Jepang, India, bahkan negara Eropa seperti Mexico, Argentina, dan Amerika Selatan lain. Namun, khusus untuk ikat double ini masih endemik di India, Indonesia dan juga Jepang.
Ikat India dan Indonesia
Jika diperhatikan dengan seksama, kain ikat India dan Indonesia nampak sedikit mirip. Terutama jika membandingkan jenis kain ikat Bali dan India.
Di India, kain ikat ini diproduksi di Gujarat oleh para ibu rumah tangga. Kain ikat India ini disebut Patola. Didiet Maulana, desainer Ikat Indonesia mengungkapkan bahwa meski mirip, kedua ikat beda negara ini masih memiliki ciri khasnya masing-masing.
"Keduanya sama-sama bagus. Hanya saja tekstur dan benang pembuat kain ikatnya cukup berbeda. Ikat India cenderung lebih halus dibanding Indonesia," kata Didiet saat konferensi pers fashion show "A Weave of Friendship: Celebrating 100 Years of Indian Cinema" di Four Seasons Hotel, Jakarta selatan, Senin, (23/9/2013) lalu.
Selain itu, Didiet juga mengungkapkan bahwa letak perbedaan lainnya ada pada warna kainnya. Kain ikat India dinilai lebih berani menggunakan warna-warna cerah. Selain itu, India juga banyak mencampur warna dalam satu kainnya.
Pola-pola ikat dan motif yang ada di kain ikat India dan Indonesia pun berbeda. "India memiliki pola dan motif yang lebih besar-besar," tambahnya. Jika Indonesia banyak menerapkan pola-pola geometris dan juga bentuk wayang, maka India lebih banyak mengadaptasi pola geometris, burung, bunga, binatang dan lainnya.
"Yang pasti, menurut saya, kain ikat India ini lebih rapih dibanding dengan Indonesia. Kerapihan ini salah satunya terlihat dari kerapatan benang-benang yang membentuk pola kain. Ini yang masih harus dipelajari oleh pengrajin Indonesia," saran Didiet.
Editor :
D. Syafrina Syaaf
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: