Jakarta, Turut membantu mengurangi kecacatan, kesakitan, dan kematian pada anak, Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof dr Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, megimbau orang tua untuk memastikan anaknya diimunisasi secara lengkap.
"Sangat sayang kalau anak-anak yang prospek hidupnya luar biasa tidak bisa menjangkau karena orang tuanya tidak care atau lupa memberi imunisasi lengkap. Anak punya hak untuk tumbuh kembang secara optimal dan sehat," ujar Prof Ali.
Hal tersebut diungkapkan Prof Ali saat ditemui dalam seminar 'Imunisasi untuk Masa Depan Lebih Sehat', yang diselenggarakan di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (9/5/2014).
"Sumber daya manusia baik itu salah satu prasyaratnya sehat sejak awal, bahkan sejak dalam kandungan. Kalau anak lahir kurang gizi, nanti proses perkembangan otaknya jadi berpengaruh. Kurang gizi bisa mudah kena penyakit dan kena bodoh permanen," ujar Prof Ali.
Meskipun disebut-sebut memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap angka kecacatan, kesakitan dan kematian anak, masih banyak orang tua yang menolak anaknya diimunisasi. Sebagian dari mereka menganggap imunisasi berbahaya.
"Iya ada yang bilang imunisasi itu bahaya dan tidak aman. Tidak, itu tidak betul," tegas Prof Ali.
Diperkirakan 2-3 juta kematian per tahun secara global berhasil dicegah dari penyakit difteri, campak, pertusis, pneumonia, polio, rubella dan tetanus melalui imunisasi. Namun masih ada sekitar 22 juta bayi di dunia belum mendapatkan imunisasi lengkap dan 9,5 juta di antaranya ada di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
(ajg/vit)