Guinea, Lebih dari 50 orang tewas di Guinea, Afrika Barat akibat demam disertai perdarahan yang mewabah belakangan ini. Pemeriksaan sampel di laboratorium menunjukkan, para korban positif terinfeksi virus ebola.
Juru bicara pemerintahan, Damantang Albert Camara mengatakan pemeriksaan sampel dilakukan di sebuah laboratorium di Lyon, Prancis. Kejadian ini disebut sebagai wabah pertama di kalangan manusia, yang terjadi di Guinea, Afrika Barat.
Kementerian Kesehatan setempat mengungkap sedikitnya 80 kasus telah dilaporkan dan korban tewas mencapai 59 orang. Sebagain besar korban berasal dari wilayah selatan, dekat perbatasan dengan negara tetangga, Sierra Leone dan Liberia.
Sebuah tim, termasuk dari kementerian kesehatan, telah dikirim ke wilayah tersebut. Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders juga telah mendirikan unit isolasi di Gueckedou, sebagai upaya agar persebaran penyakit itu tidak meluas.
"Di Guinea, negara dengan infrastruktur medis yang lemah, wabah seperti ini bisa sangat mengerikan," kata Dr Mohamer Ag Ayoya, perwakilan UNICEF dalam pernyataannya, seperti dikutip dari USA Today, Senin (24/3/2014).
Hingga kini, pemerintah belum bisa mengidentifikasi subtipe virus ebola yang tengah mewabah, sehingga belum bisa memperkirakan tingkat kematiannya. Dr Esther Sterk dari Doctors Without Borders mengatakan, tingkat kematian akibat ebola berada dalam rentang 25-90 persen.
"Kami melihat bahwa banyak orang meninggal, mereka semua terhubung. Artinya ada kontak satu sama lain. Ini sangat umum pada wabah ebola. Kami melihat adanya rantai penularan dalam keluarga," kata Dr Sterk.
(up/vit)