Pages

Rabu, 30 Juli 2014

health.detik
Detik.com sindikasi 
Food is Your Best Medicine

The natural approach to cancer, heart disease, obesity, and other chronic conditions.
From our sponsors
Kelamaan Membujang, Efeknya ke Sperma dan Kanker Prostat?
Jul 30th 2014, 08:22

Jakarta, Bukan cuma perempuan yang terganggu dengan pertanyaan seputar jodoh. Laki-laki pun merasa dikejar waktu saat mendapatkan pertanyaan semacam itu, sebab ada mitos kualitas sperma akan berkurang kalau kelamaan membujang.

Beberapa penelitian menunjukkan, semakin tua umur lelaki makin banyak pula risiko defect atau kerusakan struktur DNA (deoxyribo nucleic acid) yang ditemukan pada spermanya. Dampak yang dikhawatirkan cukup beragam, mulai dari kemampuan membuahi sel telur hingga risiko cacat pada keturunan yang dihasilkan.

Untungnya, usia bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh. Pakar kesehatan reproduksi laki-laki mengatakan, kualitas sperma dipengaruhi juga oleh gaya hidup, termasuk di antaranya olahraga teratur dan pola makan yang sehat. Asal semua itu tetap terjaga, maka risiko defect tidak perlu dikhawatirkan.

"Bisa saja orang yang usianya sudah matang, tapi gaya hidupnya baik. Maka spermanya akan tetap berkualitas baik," ujar dr Nugroho Setiawan, SpAnd, pakar andrologi dari RS Fatmawati, saat dihubungi detikHealth seperti ditulis Rabu (30/7/2014).

Demikian juga dengan risiko kanker prostat, yang konon akan meningkat jika seorang laki-laki jarang mengeluarkan sperma. Dengan asumsi tidak melakukan masturbasi, laki-laki yang telat menikah cenderung lebih jarang mengeluarkan sperma dibandingkan laki-laki beristri.

Lagi-lagi, mitos ini terbantahkan. Menurut dr Nugroho, kemungkinan laki-laki yang telat menikah lebih rentan kanker prostat karena tidak ada yang memperhatikan gaya hidupnya. Akibatnya laki-laki tersebut jarang olahraga, sibuk bekerja, merokok, minum alkohol dan terjerumus seks bebas.

"Enggak benar itu, kanker prostat tidak dipengaruhi oleh faktor seorang laki-laki belum pernah berhubungan badan sama sekali hingga umurnya tua. Itu mitos saja," tandas dr Nugroho.

Baca juga:

Risiko Telat Kawin: Komplikasi Kehamilan | Ngeles Sih Boleh, Tapi Telat Kawin Tetap Ada Risikonya |Curhat Pembaca: Rajin Tanya Kapan Kawin, Rumah Tangga Sendiri Tak Bahagia | 'Kejar Tayang' Cari Jodoh Cuma untuk Menghindari Pertanyaan 'Kapan Kawin?' | Disampaikan Lewat Kerabat, Justru Ortu yang Penasaran Kapan Anaknya Kawin | Dibanding Laki-laki, Perempuan Lebih Sering Ditanya 'Kapan Kawin?' | Ragam Cara Menghadapi Pertanyaan Jayus 'Kapan Kawin?' | Psikolog: Stop Bertanya 'Kapan Kawin' Saat Lebaran!

(up/up)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Media files:
152451_ulkhasrabu2.jpg (image/jpg, 0 MB)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions