Jakarta, Cooling break dilakukan di tengah pertandingan agar pemain memiliki waktu rehidrasi. Hal ini bertujuan agar ion dan cairan yang hilang dari tubuh akibat berkeringat dapat diisi ulang.
Lalu jika tak cooling break, apa akibatnya bagi pemain? dr Arie Sutopo, SpKO, Ketua Bidang IPTEK KONI DKI Jakarta mengatakan bahwa jika cooling break tak dilakukan, akibatnya pemain bisa terserang heatstroke.
"Kalau sudah dehidrasi tapi tetap bermain, nanti bisa terserang heatstroke. Gejalanya itu pusing, muntah-muntah, hingga pingsan dan kejang-kejang" tutur dr Arie ketika dihubungi detikHealth, Senin (30/6/2014).
Dijelaskan dr Arie bahwa kelembapan dan suhu udara yang tinggi membuat pemain mengeluarkan keringat lebih banyak. Karena itu, risiko dehidrasi pun menjadi lebih tinggi, yang menyebabkan pemain rentan mengalami heatstroke.
dr Arie menegaskan bahwa cooling break mutlak dilakukan sesuai dengan arahan yang sudah diberikan oleh FIFA. Perihal anggapan bahwa cooling break merusak alur dan ritme permainan, ia mengatakan bahwa hal tersebut kalah penting dibanding kesehatan atlet.
"Sebagai dokter kan yang paling utama adalah kesehatan kesejahteraan atlet, bukan prestasi atau kemenangan. Jika nanti mengabaikan kesehatan juga kan dia nggak akan bisa berprestasi," tegas dr Arie lagi.
Seperti diketahui pada laga Piala Dunia 2014 semalam, pertandingan Belanda versus Meksiko sempat dihentikan selama 3 menit untuk melakukan cooling break. FIFA mengatakan bahwa cooling break dapat dilakukan jika suhu ketika pertandingan mencapai 32 derajat celcius atau lebih.
Ketika cooling break, para pemain diminta untuk minum agar keringat yang keluar dapat terganti. Selain itu, mereka juga diminta mengompres kepala untuk menurunkan suhu tubuh sehingga tidak terlalu tinggi.
(up/up)